Kamis, 18 April 2013

142 SEPEDA MOTOR UNTUK GURU DAERAH TERPENCIL

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada 2012 jumlah guru di Indonesia mencapai 2,7 juta. Dari jumlah tersebut, 1,5 juta di antaranya belum berkualifikasi S-1. Selain itu, mereka masih terkonsentrasi di pulau-pulau padat penduduk, seperti Jawa dan Sumatera.
Fakta lain menyebutkan di pulau-pulau padat penduduk terjadi kelebihan guru hingga 500 ribu orang. Namun, situasi yang berbanding terbalik terjadi di daerah pedalaman. Misalnya, Provinsi Papua yang masih membutuhkan sedikitnya 500 guru. Bahkan, di pelosok hutan Kalimantan tak jarang ditemukan SD atau SMP yang hanya memiliki 3-4 orang guru.
Padahal, guru sebagaimana sering didengungkan adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Peran guru tak terhingga dalam menciptakan pemimpin bangsa. Tanpa guru, kemajuan suatu bangsa tak akan terjadi. Oleh sebab itu, tak terbayangkan jika negara seluas Indonesia, kebutuhan gurunya kurang mencukupi. Bayangkan, berapa banyak anak bangsa yang terjerat di jurang kebodohan.

Apresiasi

Oleh sebab itu, kita patut memberikan apresiasi kepada guru-guru, terutama mereka yang mengajar di daerah terdepan, terpencil, dan terluar Indonesia. Walaupun mengajar dengan segala keterbatasan, semangat pengabdian mereka tak pernah padam. Nah, apresiasi kepada guru ini salah satunya dilakukan oleh BRI.
“Untuk kemajuan anak bangsa, guru mengabdi dengan setulus hati. Mereka layak mendapatkan apresiasi untuk kesetiaan dan pengabdian atas profesi mereka. Untuk 142 guru dari daerah terpencil, kami berikan sepeda motor operasional dengan harapan dapat menambah semangat mereka mencerdaskan anak bangsa. Guru-guru tersebut mengajar dari tingkat SD, SMP, dan SMU. Mereka merupakan guru-guru berprestasi yang telah diseleksi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” ujar Corporate Secretary BRI Muhamad Ali.

Kerja sama

Muhamad Ali menambahkan, hal ini merupakan salah satu upaya BRI untuk berpartisipasi dalam mencerdaskan anak bangsa. Sebelumnya upaya ini dilakukan BRI bekerja sama dengan Kodam Jaya yang telah merenovasi 17 sekolah yang tersebar di Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang.
Selain itu, BRI bekerja sama dengan TNI AL dan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu dalam memberikan bantuan kapal pintar untuk dioperasikan di Raja Ampat, Papua. Ada juga bantuan sepeda motor pintar yang ditempatkan di ujung selatan Indonesia yaitu Rote Ndao dan bantuan rumah pintar yang dibangun di ujung utara negeri ini, Miangas. [INO]


DIDUKUNG OLEH 

ADA APA DENGAN UN ? 2013


Sebanyak 2.133 siswa SLTA di Banten harus mengikuti ujian nasional (UN) susulan pada Senin (22/4/2014) pekan depan. Sebagian besar siswa yang harus UN susulan tersebut karena batal mengikuti UN hari pertama untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Hudaya Latuconsina, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten kepada wartawan, Kamis (18/4/2014). "Paling banyak memang siswa yang hari pertama batal ikut UN. Ini terjadi karena keterlambatan naskah soal, serta naskah soal yang tertukar," paparnya.

Sementara itu, pihaknya juga menilai Lembar Jawaban Komputer (LJK) terlalu tipis dan akan menyulitkan anak didik di tingkat SLTP dan SD untuk menggunakannya nanti.

"Kalau anak SLTA saja agak kesulitan berhati-hati mengisi LJK, apalagi siswa SD dan SLTP. Pihak Untirta yang bertugas mengoreksi juga menyatakan sering terjadi rangkap karena tipisnya itu," ujar Hudaya.

Di lain pihak, Sekretaris Panitia UN Provinsi Banten Rudi Darmawan mengungkapkan melalui sambungan seluler, peserta SLTA yang mengikuti UN Susulan, antara lain berasal dari sekolah yang pada Senin lalu batal melaksanakan UN. Seperti SMAN 3 Kota Serang, SMA Nurul El Bantany, SMA Rachmatoellah, dan SMAN 1 Kota Cilegon.

Selasa, 19 Maret 2013

Pendaftaran Seleksi Tulis Masuk PTN Dibuka 13 Mei

BANJARMASIN POST/DONNY SOPHANDI Ilustrasi: SNMPTN

JAKARTA,  — Apabila Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun ini hanya diperuntukkan bagi lulusan 2013, maka lulusan SMA/SMK/MA tahun 2012 atau 2011 yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi tidak perlu khawatir. Pasalnya, kesempatan tetap terbuka melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Ketua Umum Panitia SBMPTN 2013, Akhmaloka, mengatakan bahwa jalur yang diluncurkan pada Jumat (15/3/2013) ini berbasis seleksi hasil ujian tertulis dan terbuka bagi siswa yang lulus UN pada tahun 2011 dan 2012 serta bagi siswa yang tak berhasil memperoleh kursi di PTN melalui SNMPTN. Pendaftaran untuk SBMPTN baru akan dibuka pada 13 Mei mendatang dan ditutup pada 7 Juni. Sementara itu, ujian seleksi ini sendiri akan diselenggarakan selama dua hari, yaitu pada 18-19 Juni.

"Sistem ini kami buka untuk memfasilitasi siswa yang tak lolos SNMPTN tahun lalu atau tahun ini dan juga siswa yang ingin pindah kampus," kata Akhmaloka saat peluncuran SBMPTN di Kemdikbud, Jakarta, Jumat (15/3/2013).

Pria yang juga menjabat sebagai Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menjelaskan bahwa berbeda dengan tahun 2012, peserta ujian tertulis kali ini dapat memilih tiga program studi dengan tiga kelompok ujian yang disediakan. Jika pada tahun lalu tiga kelompok tersebut adalah IPA, IPS, dan IPC, maka kali ini terdiri dari kelompok Sains-Teknologi, kelompok Sosial-Humaniora, dan kelompok campuran.

"Sekarang untuk semua kelompok boleh memilih tiga prodi yang diminatinya," ungkap Akhmaloka.

  1. Untuk SBMPTN sendiri, peserta yang mengikutinya akan dikenai biaya berdasarkan dengan kelompok ujian yang dipilihnya. Pada tahun ini, panitia mematok sebesar Rp 175.000 untuk kelompok sains-teknologi dan kelompok sosial-humaniora, sementara untuk kelompok campuran dibanderol lebih mahal dengan biaya sebesar Rp 200.000. dikutip dari

Babel Mendaftarkan 16.565 Siswa SMP Ikuti UN

Shutterstock Ilustrasi
PANGKALPINANG,  — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) siap mendaftarkan sebanyak 16.565 pelajar setingkat sekolah menengah pertama (SMP) mengikuti Ujian Nasional 2013, pada 22 - 25 April.
"Kami sudah memperoleh hasil pendataan pelajar tingkat SMP yang akan mengikuti UN tahun ini dari laporan dinas kabupaten/kota di Babel agar tidak terjadi kesalahan dan kekeliruan dalam mempersiapkan penyelenggaraan UN di daerah ini," ujar Kabid Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) Disdik Babel Wahyudin di Pangkalpinang, Senin (18/3/2013).
Ia menyatakan, total pelajar 16.565 yang akan mengikuti UN tingkat SMP di Babel itu terdiri dari 16.539 pelajar SMP/MTs dan 26 pelajar dari SMP Luar Biasa (SMPLB).
"Mereka tersebar di satu kota dan enam kabupaten di Provinsi Babel, yaitu 26 sekolah di Kota Pangkalpinang, 51 sekolah di Kabupaten Bangka, 39 sekolah di Kabupaten Bangka Barat, 24 sekolah di Kabupaten Bangka Tengah, 32 sekolah di Bangka Selatan, 30 sekolah di Kabupaten Belitung, dan 20 sekolah di Kabupaten Belitung Timur," ujarnya.
Ia menambahkan, dari jumlah sekolah tersebut terdapat lima sekolah SMPLB, antara lain dua sekolah di Kota Pangkalpinang, satu sekolah di Kabupaten Bangka, satu sekolah di Kabupaten Bangka Selatan, dan satu sekolah di Kabupaten Belitung.
"Pelaksanaan ujian nasional bagi siswa SMP/MTs dan SMPLB diselenggarakan dalam waktu yang bersamaan sehingga kemungkinan terjadinya kecurangan dapat kami tekan untuk memperoleh hasil maksimal dari peserta," ujarnya.
Ia mengatakan, ada empat mata pelajaran yang akan diujikan atau satu mata pelajaran setiap harinya, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam.
"Kami sudah sosialisasaikan kepada sekolah agar mempersiapkan siswanya dengan baik untuk menghadapi ujian nasional tahun ini sehingga dapat memperoleh nilai yang memuaskan dan juga dapat memenuhi standar nilai masuk sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) yang mereka cita-citakan," katanya.
Menurut dia, sekolah memiliki peranan penting dalam mempersiapkan siswa kelas tiga untuk menghadapi ujian nasional tahun ini baik secara mental, fisik, dan juga materi karena dengan persiapan yang matang kemungkinan untuk memperoleh nilai yang diinginkan lebih besar.
"Persiapan itu telah dilakukan oleh sekolah dengan menambah jam belajar siswa kelas tiga untuk belajar materi yang diujikan dan juga dengan menyelenggarakan beberapa try out ujian nasional," ujarnya.
Sementara itu, kata dia, untuk tingkat SD/ MI yang mengikuti ujian nasional tahun ini ada sebanyak 22.928 peserta dari seluruh daerah di Provinsi Babel
dikutip dari.

Jumat, 15 Maret 2013

Sebut Indonesia, bukan Indon


 Sebut Indonesia, bukan Indon
Warga Negara Indonesia sangat sensitif terhadap sebutan Indon. Namun apakah arti sebenarnya Indon di Malaysia dan apa maksudnya?

Warga Malaysia, kerap menyebut warga Indonesia dengan sebutan Indon. Di mana pun, siapa pun mereka menyebut WNI dengan sebutan Indon. Dengan hanya mengenali bahasa yang digunakan, mereka langsung bisa menebak bahwa lawan bicaranya berasal dari Indonesia.

"Wartawan Indon?" tanya seorang petugas kepolisian yang sedang melakukan pemeriksaan di jalan menuju resort Felda Sahabat, Sabah, Malaysia kepada merdeka.com, Kamis (14/3).

"Oh dari Indon, bila (kapan) sampai di Lahad Datu?" ujar resepsionis sebuah hotel di Lahad Datu.

Bahkan warga Malaysia keturunan Indonesia yang sudah jadi warga negara Malaysia juga menyebut Indon bila menjumpai orang Indonesia di Malaysia. Apa sebabnya?

"Bukan hinaan sebenarnya tuh, Indon itu singkatan saja, terlalu panjang kalau sebut Indonesia, jadi kami singkat saja, Indon," ujar Thamrin, warga Malaysia keturunan Bugis kepada reporter merdeka.com Hery H Winarno. Thamrin adalah sopir angkutan umum atau bus di Lahad Datu.

Hal yang sama juga disampaikan seorang pegawai di Jabatan Penerangan Malaysia. Menurutnya, sebutan Indon tidak lain hanya sebuah singkatan belaka.


"Oh tidak (menghina) maksud kami hanya menyingkat saja, tidak menghina. Tapi baik saya panggil Indonesia saja, biar awak tak kesal," ujar pegawai Jabatan Penerangan Malaysia yang enggan disebutkan namanya.

Mungkin benar bahwa maksud mereka menyebut warga negara Indonesia dengan sebutan Indon tidak ada maksud menghina. Tetapi tentunya lebih baik tidak perlu disingkat.

Banyak WNI yang bekerja di Malaysia juga mengaku keberatan bila disebut Indon. Meskipun tak jarang yang menyebut Indon tersebut juga warga negara Indonesia yang telah lama tinggal di Malaysia dan belum jadi warga negara Malaysia.

"Saya tidak pernah mau disebut Indon, saya selau bilang, Indonesia bukan Indon," ujar Yasir Fatahillah, guru yang mengajar anak-anak pekerja perkebunan kelapa sawit dalam perbincangan dengan merdeka.com di Lahad Datu.

Meski tidak ada maksud menghina dan hanya menyingkat, tetapi kata Indon berkonotasi negatif. Menurut Yasir, dalam bahasa tertentu di Malaysia, Indon berarti pelacur.

"Makanya saya tak mau disebut Indon, Indonesia ya Indonesia, bukan Indon," tegas sarjana hukum ini.

WNI lain yang juga bekerja di Sabah, Suwandi juga menolak jika disebut Indon. Menurut dia, dulu Indon adalah kepanjangan dari Indonesia Donkey (Keledai Indonesia), sebuah umpatan kepada warga Indonesia. Indon melekat kepada WNI karena stigma negatif bahwa Indonesia hanya bisa menjadi pekerja rumah tangga atau pekerja kasar seperti di perkebunan Malaysia

"Ya meskipun sekarang kata Indon memang berarti singkatan, bukan umpatan seperti dulu, tetap saja saya tak pernah mau disebut Indon," terang Wandi.

Dan untuk mengubah hal itu ternyata bukan perkara mudah karena sebutan tersebut sudah mendarah daging di warga Malaysia. Namun tetap saja kami protes.

"Saya Indonesia, bukan Indon dan saya tidak suka dipanggil Indon," ujar merdeka.com kepada seorang sopir bus.

"Iyalah, lupa lagi saya. Indonesia, Indonesia, nanti saya tak panggil lagi orang Indonesia dengan Indon. Bapak saya pun Indonesia, Makassar," ujar Thamrin       dikutip Merdeka.com